Wednesday, February 2, 2011

mentari senja..




Mentari mulai lelah menunggu. “Sepertinya dia akan terlewat lagi” ucapnya perlahan. Sudah waktunya ia pulang, tubuhnya mulai lemas mengeluarkan setiap tenaga yang ia punya hampir dua belas jam lamanya.
“Senja,cepatlah datang. Seperti dahulu waktu kita masih sering bermanja” pinta Mentari dalam hati.
Sudah 10 minit, Awan sudah mulai mengarak menuju rumahnya. Ah, Senja kemana? Kesian Mentari, sudah mulai lelah membiaskan cahayanya…

“Mungkin 10 minit lagi” gurau Mentari meyakinkan diri.

Dilihatnya sekelilingnya, tak ada Pelangi yang biasa muncul dikala Senja terlewat datang. Sudah lama Pelangi tidak ada sejak Desember mulai mengambil cutinya sampai setahun kehadapan .Mentari lelah, mulai berwarna jingga. Ia hanya mampu terduduk bisu sambil menunggu. Menunggu datangnya Senja yang belum tiba juga.

“Maaf aku terlewat” ucap Senja tergesa-gesa.

Mentari tatap tajam mata Senja tanpa bicara. Senja masih saja terpukau oleh sinar mata jingganya walau sudah mulai pudar. Senja selalu suka Mentari di petang hari. Pipi merah dan sinar matanya seperti kanvas lukisan alam yang menciptakan jutaan inspirasi. Tapi kini pipi Mentari sudah tak memerah lagi, mulai pucat lesi.

“Tak seindah biasanya, mungkin dia sudah sangat lelah” ujar Senja dalam hati.

Mentari mulai bergerak perlahan, mendekati Senja yang mulai mendekati posisinya. Mereka semakin dekat sampai hening tercipta saat Matahari dan Senja berjarak hanya satu inci saja.
“Aku pulang dulu, untuk awan yang masih berarak. Sampaikan salam untuk Bulan”
Mentari menatap tajam mata Senja sebelum pergi menjauh. Senja hanya mampu terdiam dalam rindu. Ingin diraihnya tangan Mentari dan meminta ia untuk tetap disini, membagi sedikit jingganya lebih lama hingga cerianya mampu memberi warna. Tapi bukan begitu kudratnya, Mentari harus tetap pulang atau nanti malah dia tak akan kembali.
Mentari mulai menjauh, memudarkan cahayanya bersama burung yang juga pulang menuju pantai di Utara. Mereka nanti membahagi arah, Mentari pulang ke Ufuk Barat.
Senja sedih. Senja rindu. Langit pun membiru. Maka petang ini tak mampu ia torehkan jingga pertanda ceria. Walau tidak sampai satu jam lagi, ia akan bertemu Bulan sang pujaan hati.






No comments: